Penalaran Logis

Paket 04

Estimasi waktu pengerjaan: 17 menit

Dalam menyelesaikan suatu masalah, Penalaran Logis adalah teknik berpikir yang digunakan untuk menarik kesimpulan secara logis. Proses ini melibatkan kemampuan siswa untuk berpikir secara sistematis dan menyajikan argumen yang akurat agar dapat memperoleh kesimpulan yang baik, baik secara deduktif maupun induktif.

Untuk menguji potensi akademik, Tes Potensial Skolastik (TPS) terdiri dari beberapa sub tes, salah satunya adalah Penalaran Logis yang termasuk dalam paket soal Penalaran Umum (PU). Bagi calon peserta UTBK-SNBT, sangat disarankan untuk melatih kemampuan logika dengan mengerjakan soal-soal penalaran logis agar dapat meningkatkan kemampuan dalam menghadapi ujian tersebut.

Silakan kerjakan paket soal yang sudah kami siapkan di bawah untuk mengasah kemampuan berlogika kalian. Selain soal, ada pembahasannya juga ada loh. Silakan dicoba!

Download Soal

Nomor 1

Sebagian P adalah B. B bukan T. Sebagian P bukan M adalah T. Semua B, M, dan T adalah P. Jadi :

A. Semua T adalah T bukan M
B. Semua P adalah B bukan T
C. Semua P bukan B bukan M
D. Sebagian P bukan T, bukan M, bukan B
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Mari kita analisis hubungan antar-himpunan berdasarkan premis yang diberikan:
• B, M, dan T semuanya adalah bagian di dalam himpunan besar P.
• Premis menyatakan: "Sebagian P bukan M adalah T". Ini berarti seluruh anggota himpunan T berada di area P yang tidak tumpang tindih dengan M. Dengan kata lain, tidak ada anggota T yang merupakan anggota M (TM=T \cap M = \emptyset).

Oleh karena itu, pernyataan yang paling mutlak dan benar adalah Semua T adalah T bukan M (A), karena setiap anggota T sudah pasti bukan bagian dari M.


Nomor 2

Beberapa benda yang memuai adalah logam. Semua logam adalah benda padat. Jadi :

A. Hanya logam yang memuai merupakan benda padat.
B. Benda yang bukan logam tidak memuai.
C. Beberapa benda padat dapat memuai.
D. Benda padat dapat memuai.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: C

Mari kita susun menggunakan silogisme kategorial:
Premis 1: Beberapa benda memuai \rightarrow Logam.
Premis 2: Semua logam \rightarrow Benda padat.

Karena semua logam adalah benda padat, maka kelompok "beberapa benda memuai yang merupakan logam" otomatis juga berstatus sebagai benda padat. Mengikuti hukum penarikan kesimpulan, jika salah satu premis bersifat partikular ("Beberapa"), maka kesimpulan wajib bersifat partikular.

Kesimpulan: Beberapa benda padat dapat memuai (C).


Nomor 3

Semua X bukan P. Sebagian X adalah Q, jadi :

A. Sebagian X adalah Q bukan P.
B. Semua X bukan P and Q.
C. Sebagian X bukan Q adalah P
D. Semua X adalah Q.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Premis 1: Semua X \rightarrow Bukan P (¬P\neg P).
Premis 2: Sebagian X \rightarrow Q.

Karena "sebagian X" adalah bagian dari himpunan Q, dan di sisi lain "semua X" dipastikan bukan P, maka area X yang beririsan dengan Q tersebut mutlak terbebas dari P.

Kesimpulan: Sebagian X adalah Q bukan P (A).


Nomor 4

Semua lukisan yang bernilai seni yang tinggi berpedoman pada hukum-hukum perspektif. Kebanyakan lukisan Tiongkok dan Jepang tidak memperhatikan hukum ini. Jadi tidak dapat disimpulkan :

A. Lukisan Jepang dan Tiongkok tidak ada yang bernilai seni yang tinggi
B. Lukisan Tiongkok dan Jepang belum tentu tidak bernilai seni yang tinggi
C. Kebanyakan lukisan Tiongkok dan Jepang mempunyai nilai seni yang tinggi
D. Jawaban a, b, dan c ketiga-tiganya salah

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Mari kita analisis secara silogistik formal:
Premis 1: Seni Tinggi \rightarrow Hukum Perspektif.
Premis 2: Kebanyakan (sebagian besar) lukisan Tiongkok/Jepang \rightarrow Tidak berpedoman pada perspektif.

Melalui Modus Tollens, kelompok lukisan Tiongkok/Jepang yang tidak berpedoman pada perspektif pasti tidak memiliki nilai seni tinggi. Namun, karena diksi premis menggunakan kata "kebanyakan", masih ada minoritas lukisan Tiongkok/Jepang yang mungkin saja berpedoman pada perspektif dan bernilai seni tinggi.

Oleh karena itu, pernyataan yang menggeneralisasi secara absolut seperti "Lukisan Jepang dan Tiongkok tidak ada yang bernilai seni yang tinggi" (A) adalah salah dan tidak dapat disimpulkan.


Nomor 5

Jika 20%20\% dari xx adalah 2a2a dan 45%45\% dari xx adalah 12b\frac{1}{2}b, maka berapa persen a+ba + b dari xx ?

A. 80
B. 90
C. 100
D. 65
E. 50

Lihat Pembahasan

Jawaban: C

Mari kita selesaikan persamaan aljabar kuantitatif ini langkah demi langkah:

1. Dari informasi pertama:
20%x=2a20\% \cdot x = 2a
0,2x=2aa=0,1x0,2x = 2a \rightarrow a = 0,1x

2. Dari informasi kedua:
45%x=12b45\% \cdot x = \frac{1}{2}b
0,45x=0,5bb=0,450,5x=0,9x0,45x = 0,5b \rightarrow b = \frac{0,45}{0,5}x = 0,9x

3. Jumlahkan nilai a+ba + b:
a+b=0,1x+0,9x=1,0xa + b = 0,1x + 0,9x = 1,0x

Nilai 1,0x1,0x setara dengan 100%100\% dari nilai xx. Jadi, a+ba + b adalah 100% (C) dari xx.


Nomor 6

Semua penyanyi dangdut pandai bergoyang. Penyanyi yang bernama Nurlela tidak dapat menggoyangkan badannya di panggung. Jadi :

A. Nurlela bukan penyanyi di panggung.
B. Nurlela adalah penyanyi sentosa.
C. Nurlela adalah penyanyi amatir.
D. Nurlela tidak pandai bergoyang.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: D

Premis 1: Penyanyi dangdut \rightarrow Pandai bergoyang.
Premis 2 / Fakta: Nurlela tidak dapat menggoyangkan badannya di panggung.

Secara bahasa, premis kedua mengonfirmasi secara langsung sifat dari subjek. Klaim "tidak dapat menggoyangkan badannya" memiliki makna ekuivalen (sinonim) dengan pernyataan bahwa Nurlela tidak pandai bergoyang (D).

(Catatan: Kesimpulan silogisme formalnya adalah Nurlela bukan penyanyi dangdut, namun karena konklusi tersebut tidak tersedia di pilihan ganda, kita memilih representasi makna yang paling valid dan tertulis di lembar soal).


Nomor 7

Semua mahasiswa berdasi. Sebagian mahasiswa berjas. Jadi :

A. Sebagian mahasiswa bersepatu
B. Sebagian mahasiswa berjas dan bersepatu
C. Sebagian mahasiswa berdasi dan berjas
D. Sebagian mahasiswa bersepatu tapi tak berjas
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: C

Premis 1: Semua mahasiswa \rightarrow Berdasi.
Premis 2: Sebagian mahasiswa \rightarrow Berjas.

Karena seluruh mahasiswa tanpa terkecuali wajib berdasi, maka kelompok "sebagian mahasiswa yang memakai jas" pada premis kedua juga mutlak memakai dasi. Menggabungkan kedua atribut ini melahirkan kesimpulan partikular: Sebagian mahasiswa berdasi dan berjas (C).


Nomor 8

Setiap kali ada pertandingan PSSI di layar TVRI, para tetangga kami pasti ikut menonton di rumah kami. Malam ini mereka ada di rumah masing-masing. Jadi :

A. Televisi di rumah kami sedang rusak.
B. Pertandingan PSSI tahun ini tidak diliput oleh TVRI.
C. PSSI sedang tidak bertanding.
D. Acara di TVRI malam ini bukan pertandingan PSSI.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: D

Gunakan penalaran hukum Modus Tollens (¬Q¬P\neg Q \rightarrow \neg P):
Premis 1: Ada pertandingan PSSI di TVRI (PP) \rightarrow Tetangga menonton di rumah kami (QQ).
Fakta: Malam ini tetangga berada di rumah masing-masing (¬Q\neg Q).

Kesimpulan mutlaknya adalah ¬P\neg P, yang mengindikasikan malam ini tidak ada tayangan pertandingan PSSI di TVRI. Pernyataan yang cocok adalah Acara di TVRI malam ini bukan pertandingan PSSI (D).


Nomor 9

Bambang menjual sebuah barang dengan harga Rp80.000,- dan memperoleh laba 25% dari harga beli. Berapakah harga beli barang tersebut?

A. Rp100.000,-
B. Rp64.000,-
C. Rp120.000,-
D. Rp20.000,-
E. Rp50.000,-

Lihat Pembahasan

Jawaban: B

Gunakan rumus matematika aritmetika sosial untung-rugi:

Harga Jual=Harga Beli+Persentase Laba \text{Harga Jual} = \text{Harga Beli} + \text{Persentase Laba}
Harga Jual=100%Harga Beli+25%Harga Beli \text{Harga Jual} = 100\% \cdot \text{Harga Beli} + 25\% \cdot \text{Harga Beli}
Harga Jual=125%Harga Beli \text{Harga Jual} = 125\% \cdot \text{Harga Beli}

Masukkan angka yang diketahui ke dalam persamaan:
80.000=1,25×Harga Beli 80.000 = 1,25 \times \text{Harga Beli}
Harga Beli=80.0001,25=64.000 \text{Harga Beli} = \frac{80.000}{1,25} = 64.000

Jadi, harga beli barang tersebut adalah B. Rp64.000,-.


Nomor 10

Semua U bukan B. Sebagian U adalah C. Jadi :

A. Sebagian U adalah C bukan B
B. Semua U bukan B dan C
C. Sebagian U bukan C adalah B
D. Semua U adalah C
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Premis 1: Semua U \rightarrow Bukan B (¬B\neg B).
Premis 2: Sebagian U \rightarrow C.

Karena "sebagian U" tersebut berpasangan/beririsan dengan himpunan C, dan seluruh anggota U dijamin bukan merupakan B, maka area irisan U dan C tersebut pastilah bukan B. Kesimpulan partikular yang sah adalah Sebagian U adalah C bukan B (A).


Nomor 11

Tidak ada tananaman sayur yang bisa tumbuh di padang pasir. Kaktus bukan tanaman sayur. Jadi :

A. Kaktus bukan tananam padang pasir.
B. Kaktus bisa tumbuh di padang pasir.
C. Tidak ada kaktus yang tumbuh di padang pasir.
D. Semua kaktus hanya tumbuh di padang pasir.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: E

Ini adalah kesalahan logika formal yang disebut Fallacy of Denying the Antecedent (Menolak Anteseden):
• Aturan: Jika Tanaman Sayur \rightarrow Tidak bisa tumbuh di padang pasir.
• Fakta: Kaktus \neq Tanaman Sayur.

Mengetahui kaktus bukan tanaman sayur tidak memberikan kepastian logis apakah ia bisa tumbuh atau tidak bisa tumbuh di padang pasir berdasarkan premis yang diberikan. Maka, tidak ada kesimpulan (E).


Nomor 12

Dalam suatu perjamuan makan, jika di sajikan nasi goreng maka ayam goreng juga disajikan. Jika ayam goreng disajikan maka buah-buahan juga disajikan. Jadi :

A. Jika ayam goreng disajikan maka buah-buahan juga disajikan.
B. Jika nasi goreng tidak disajikan maka buah-buahan tidak disajikan.
C. Jika ayam goreng tidak disajikan maka nasi goreng juga disajikan
D. Jika buah-buahan tidak disajikan maka nasi goreng tidak disajikan.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: D

Gunakan prinsip logika Silogisme Hipotetis Berantai:
• Premis 1: Nasi Goreng (NN) \rightarrow Ayam Goreng (AA)
• Premis 2: Ayam Goreng (AA) \rightarrow Buah-buahan (BB)
• Hasil Rantai: NBN \rightarrow B (Jika nasi goreng disajikan maka buah-buahan disajikan).

Sekarang, kita cari bentuk Kontraposisi dari hasil tersebut (PQ¬Q¬PP \rightarrow Q \equiv \neg Q \rightarrow \neg P):
¬B¬N\neg B \rightarrow \neg N

Kalimat kontraposisinya berbunyi: Jika buah-buahan tidak disajikan maka nasi goreng tidak disajikan (D).


Nomor 13

Semua musim berlangsung selama tiga bulan. Sebagian musim terasa dingin. Jadi :

A. Semua musim yang terasa dingin berlangsung selama tiga bulan.
B. Tidak semua musim berlangsung tiga bulan.
C. Semua musim terasa dingin dalam tiga bula.
D. Sebagian musim tidak berlangsung selama tiga bulan.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Sifat deduksi inklusif:
Karena premis pertama menegaskan secara mutlak bahwa Semua musim berlangsung selama tiga bulan, maka kompartemen atau sub-himpunan musim apa pun (termasuk "musim yang terasa dingin") secara otomatis pasti memiliki durasi tiga bulan.

Oleh karena itu, Semua musim yang terasa dingin berlangsung selama tiga bulan (A).


Nomor 14

Tamatan SMA belum tentu mahasiswa. Tini tamatan SMA dan melamar bekerja di PT. Aneka. Tenaga yang dibutuhkan di PT. Aneka bukan tamatan SMA. Jadi :

A. Tini tidak dibutuhkan di PT. Aneka
B. Tini dibutuhkan di PT. Aneka
C. Tini bukan mahasiswa
D. Tidak ada kesimpulan yang benar

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Mari kita padukan syarat dan kualifikasi pendaftar:
• Kualifikasi PT. Aneka: Harus BUKAN tamatan SMA (¬SMA\neg SMA).
• Status Tini: Merupakan tamatan SMA (SMASMA).

Karena status pendidikan Tini bertolak belakang dan tidak memenuhi kriteria mutlak lowongan kerja yang dicari oleh PT. Aneka, maka secara logis Tini tidak dibutuhkan di PT. Aneka (A).


Nomor 15

Tamatan SMA dari semua jurusan boleh mengikuti ujian masuk Fakultas Kedokteran UI. Sebagian besar yang lulus ujian masuk Fakultas Kedokteran UI berasal dari jurusan IPA. Sumarto adalah tamatan SMA jurusan IPS. Dia diterima di UI. Jadi...

A. Sumarto lulus ujian masuk Fakultas Ilmu-ilmu Sosial UI.
B. Mungkin Sumarto tidak diterima di salah satu fakultas di UI.
C. Mungkin Sumarto diterima di Fakultas Kedokteran UI.
D. Tidak mungkin Sumarto diterima di Fakultas Kedokteran UI.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: C

Mari kita analisis peluang probabilitasnya berdasarkan teks:
• Semua jurusan (termasuk IPS) diperbolehkan mendaftar ke FK UI.
• Kalimat "sebagian besar yang lulus dari jurusan IPA" secara tidak langsung mengindikasikan bahwa ada sebagian kecil anak jurusan IPS yang bisa lulus di FK UI.
• Fakta menyatakan Sumarto lulus di UI, namun nama fakultasnya dirahasiakan.

Karena anak IPS memiliki hak dan peluang untuk lulus di FK UI, maka kesimpulan yang menggunakan kata probabilitas/peluang adalah yang paling sah: Mungkin Sumarto diterima di Fakultas Kedokteran UI (C).


Nomor 16

Maya selalu memberi hadiah barang-barang mahal. Andi diberi hadiah dasi oleh Maya. Jadi : .

A. Dasi pemberian Maya mahal.
B. Dasi adalah barang mahal.
C. Andi selalu diberi hadiah barang-barang mahal.
D. Tak ada hadiah yang tidak mahal.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: A

Premis 1: Hadiah dari Maya \rightarrow Barang mahal.
Premis 2: Dasi Andi \rightarrow Hadiah dari Maya.

Melalui penerapan silogisme langsung (Modus Ponens), karena dasi tersebut merupakan barang pemberian dari Maya, maka dasi tersebut mutlak tergolong mahal. Konklusi yang tepat adalah Dasi pemberian Maya mahal (A).


Nomor 17

Semua binatang adalah makhluk hidup. Semua makhluk hidup akan mati. Kera adalah binatang yang berekor. Tidak semua binatang yang berekor dapat memanjat. Jadi :

A. Kera dapat memanjat pohon.
B. Kera tidak dapat memanjat pohon.
C. Kera tidak mungkin akan mati.
D. Kera akan mati.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: D

Gunakan aturan silogisme hipotetis berantai dari premis-premis universal awal:
1. Binatang \rightarrow Makhluk hidup.
2. Makhluk hidup \rightarrow Akan mati.
Kesimpulan rantai: Semua Binatang \rightarrow Akan mati.

Karena Kera dideklarasikan sebagai binatang, kera mutlak mengikat sifat dasar tersebut. Urusan ekor dan memanjat hanyalah premis pengecoh. Jadi, Kera akan mati (D).


Nomor 18

Siswa yang tidak suka bermain, akan lulus dengan nilai baik. Budi lulus dengan nilai baik. Jadi :

A. Budi adalah siswa yang tidak suka bermain.
B. Semua siswa yang lulus dengan baik tidak suka bermain.
C. Tidak ada hubungan antara kelulusan dengan frekuensi bermain.
D. Hanya Budi yang lulus dengan nilai baik.
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: E

Ini adalah kesalahan logika formal yang disebut Fallacy of Affirming the Consequent (Membenarkan Konsekuen):
• Aturan: Tidak suka bermain (PP) \rightarrow Lulus nilai baik (QQ).
• Fakta: Budi lulus nilai baik (QQ).

Kita tidak bisa menarik kesimpulan mundur untuk menyatakan Budi tidak suka bermain. Seseorang yang suka bermain bisa saja tetap lulus dengan nilai baik karena faktor kecerdasan atau belajar efektif. Maka, tidak ada kesimpulan (E).


Nomor 19

Semua kendaraan menggunakan BBM. Jadi…

A. Semua sepeda motor menggunakan bensin
B. Semua mobil menggunakan bensin
C. Sebagian mobil menggunakan bensin
D. Semua kendaraan menggunakan bensin
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: E

Mari kita telaah relasi cakupan bahasanya:
Premis menyebutkan kata BBM (Bahan Bakar Minyak) yang merupakan payung besar bagi berbagai jenis bahan bakar (bensin, solar, avtur, dexlite, dll). Sedangkan pilihan jawaban A, B, C, dan D mengerucutkan klaimnya pada kata "bensin" secara sepihak.

Secara logika deduktif formal TPS, kita tidak boleh menyimpulkan spesifikasi barang yang tidak tertulis atau diatur di dalam premis teks. Oleh karena itu, Tidak ada kesimpulan yang mengikat secara mutlak (E).


Nomor 20

Harga daging ayam lebih mahal daripada daging sapi. Harga daging sapi lebih mahal daripada daging kerbau. Otak kambing lebih mahal dari daging sapi. Jadi :

A. Otak ayam lebih mahal dari daging ayam
B. Otak sapi lebih mahal dari otak kambing
C. Otak kambing lebih mahal dari daging kerbau
D. Daging ayam lebih mahal dari otak kambing
E. Tidak ada kesimpulan.

Lihat Pembahasan

Jawaban: C

Mari kita susun pertidaksamaan linear tingkat kemahalan harganya:
1. Daging Ayam>Daging Sapi\text{Daging Ayam} \gt \text{Daging Sapi}
2. Daging Sapi>Daging Kerbau\text{Daging Sapi} \gt \text{Daging Kerbau}
3. Otak Kambing>Daging Sapi\text{Otak Kambing} \gt \text{Daging Sapi}

Gunakan hukum transitif untuk membandingkan Otak Kambing dengan Daging Kerbau:
Karena Otak Kambing>Daging Sapi\text{Otak Kambing} \gt \text{Daging Sapi} dan Daging Sapi>Daging Kerbau\text{Daging Sapi} \gt \text{Daging Kerbau}, maka otomatis Otak Kambing>Daging Kerbau\text{Otak Kambing} \gt \text{Daging Kerbau}.

Kesimpulan yang pasti benar adalah Otak kambing lebih mahal dari daging kerbau (C).


Nah itu lah soal dan pembahasan dari paket soal Penalaran Umum pada paket soal SNBT - UTBK tentang Penalaran Logis, semoga kalian paham dan bisa mengerjakan paket soal ini dengan baik.

Jika kalian ingin mencoba hal baru dengan mengerjakan serta mempelajari paket soal lainnya bisa kalian cek Paket Soal Lain.

Apabila ada hal yang ingin disampaikan silakan komentar di kolom komentar di bawah.

Jangan berhenti belajar dan mencoba hal baru, bagikan pembahasan soal dari kami ke teman-temanmu agar mereka juga tahu dan bisa ikut belajar bersama kami.

TERIMA KASIH...

Advertisement

Komentar (0)

Memuat komentar...